An urban lady diary

My Bright Beginning

on
Sunday, August 5, 2012
In my dorm room

It's been a long time that I wanna tell and share about my very first experience wearing hijab but you know as usual I have no mood to write it down. How did I start to wear it? how did I feel when wear that hijab at first time? and what is the challange when wear it?. I just wanna share my experience and I don't have intention to persuade my reader to wear hijab too. I just hope you can learn something from my experience. Sharing is caring, rite?. So, here the story goes...

Pada awalnya saya termasuk golongan "tunggu entar aja" dalam memutuskan memakai hijab ini. Banyak sekali alasan yang saya buat dan saya utarakan untuk menunda dalam menggunakan hijab tersebut. Mulai yang cliche seperti belum siap lahir batin, belum ada hidayah dan chemistry yang nyamperin, sampe hatinya aja dulu yang dijilbabin. Begitu juga dengan ketakutan-ketakutan yang menurut saya kalo dipikir-pikir sekarang juga corny, kayak takut gak gaul alias kuper dan gak stylish, takut dikit temennya, takut dibilang sok alim, takut gak bisa melakukan hal-hal sebebas dulu, dan takut kesempatan-kesempatan saya dalam mengejar yang saya inginkan berkurang. Banyak banget kan usaha yang saya lakukan agar saya menunda memakai hijab.

Until one day, I read someone's blog ( I forgot the blog's name)...She said kalo yang namanya hidayah itu bukan ditunggu, tetapi dijemput. Kalo cuma nunggu dan gak usaha, ya hidayah itu gak akan datang. Dia juga bilang kalo pake hijab itu bukan masalah kesiapan lahir batin, tetapi masalahnya banyak nya muslimah yang melakukan self denial terhadap dirinya sendiri ketika dihadapkan pada persoalan pake jilbab ato gak. Gak ada salahnya kalo kita mulai belajar step by step untuk mulai pake jilbab walau intensitas nya gak tiap hari. Terus dia bilang kalo gak dari sekarang pake nya terus kapan lagi?nunggu kalo udah nikah?nunggu dapat hidayah?terus apa kita tau umur kita sampe berapa lama?apa kalian yakin kalian masih hidup sepanjang itu?. And all of that statement felt like stab my heart so deeply *ouch*. Mulai saat itu, saya jadi kepikiran terus..all of that were made sense. And finally, I told to my mom that I wanna wear hijab. She supported me a lot, She was so happy because her daughter finally wore hijab. I wore hijab on the very first day when I entered university.

Beside that, saya juga pernah baca di salah satu blog pribadi seseorang, kalo pake hijab itu bisa dikategorikan sebagai ujian...ya sama kayak ujian semester. Siap gak siap kita harus menghadapinya, siap gak siap kita harus memakainya. Hijab itu kayak identitas kalo kamu emang seorang muslimah. Banyak mindset orang yang bilang kalo pake hijab harus baik juga attitude nya, harus ngerti agama, dan berbagai harus lainnya yang akhirnya bikin mundur orang-orang yang pengen pake jilbab. Baik atau buruknya kamu, kamu harus tetep pake jilbab, karena itu sudah kewajiban dan merupakan identitas kamu yang harus dipake. Sama kayak ujian tadi yang pinter atau bodoh nya kamu, kamu harus tetep ikut ujian itu. Pakai hijab itu sama dengan kamu berkomitmen kalo kamu cinta Allah, kamu patuh sama perintahnya. Kalo kamu cinta Allah berarti kamu mau berkomitmen memakai jilbab, itu logikanya. Dengan memakai jilbab, hatimu nanti terjilbabi sendiri.

Alhamdulillah, setelah saya pakai jilbab ketakutan-ketakutan itu gak terjadi. Saya masih bisa tetep ke mall, saya masih bisa baca majalah kesukaan saya, saya masih bisa mengikuti fashion terkini, saya maish bergaul dengan teman-teman, dan kesempatan-kesempatan yang ada gak berkurang justru Allah membukakan jalannya untuk saya. Walau banyak juga godaan yang menerpa ketika pakai jilbab, mulai dari yang pengen lepas, yang panas gak kuat, dsb. Tapi kembali lagi ke komitmen tadi, saya akan menjalankan komitmen tersebut. Ya, semoga Allah selalu memberikan yang terbaik bagi kita ya sodara-sodaraku...aminnn.


Be First to Post Comment !
Post a Comment

Custom Post Signature

Custom Post  Signature