An urban lady diary

Enam Bulan di Jakarta

on
Monday, January 19, 2015
Now Playing : Sugar - Maroon 5

Gak kerasa uda enam bulanan merasakan tinggal dan hidup di ibu kota negara kita. Ini waktu terlama ku tinggal di Jakarta, biasanya cuma buat berlibur atau one day business trip, but this time i got client in Jakarta so here i am... I got many experiences in Jakarta, Jakarta taught me a lot, made me wiser, made me more passionate about life. The six months has already made love hate relationship with Jakarta. It was crazy to live in Jakarta...the metropolitan city. So this is what i thought and felt in Jakarta (this is just based on my personal experiences) :

- Kalo ditanya berani gak nyetir atau bawa kendaraan sendiri di Jakarta, definitely my answer is NO. The traffic in Jakarta so fuckin' crazy. Mulai dari macetnya ya unpredictable dan bisa bikin orang pacaran jadi putus. Sampai pengguna kendaraan yang saling gak mau ngalah nan nyolot ditambah cara nyetir abang abang bajaj dan angkot yang cara nyetirnya aje gile (hanya abang bajaj dan angkot dan Tuhan yang tahu mereka mau nyetir ke arah mana). Gak motor gak mobil sama aja mereka pada ngelanggat aturan lalu lintas sampai berasa di jalanan ini gak ada rambu lalu lintas atau traffic light aja. Bisa gila aku kalo nyetir di Jakarta, gak tau aku nya aja yang belum terbiasa dan lebay atau gimana. Memang di Surabaya ada juga yang ngelanggar tapi gak segila ini. Aku sudah terbiasa nyetir sendiri di Surabaya, di segala medan dan cuaca *duileh* , but for this time.. really I can't drive on your road, Jakarta...Mungkin nanti...iya mungkin...

- If you want to survive in Jakarta, modal nekat aja gak cukup bro sis. There were some times I saw old people who are not in productive age anymore masih kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Salut banget sama mereka, gak mau minta-minta...they choose to work. Mereka bikin aku ngingetin mengenai dana pensiun, beneran jadi kepikiran, harus disiapin dari sekarang. Ketika aku tua nanti, aku gak mau ngerepotin anak anakku maupun cucu cucuku dan aku bisa hidup tenang bahagia di hari tua. Beside money, health become an issue too. Harus jaga kesehatan dari sekarang biar ketika tua gak sakit sakitan yang berakibat bisa ngerepotin orang lain *sodorin nasi merah*.

- Jakarta taught me..penting banget punya prinsip dan gak mudah terpengaruh. I can say, lifestyle di Jakarta mahal jenderal!. And even terkadang antara lifestyle dan needs itu menjadi blur, there is no clear line between them. Iyes penting banget yang namanya just be yourself itu. Kadang karena kita pengen ikut ikutan temen kita yang terbiasa nongki nongki di coffee shop waktu break time or after work, kita jadi terpaksa tidak menjadi diri kita yang emang nggak nyaman untuk nongki nongki begituan. Sebenarnya, aku ini tipe orang rumahan...iyes, lebih nyaman di rumah (beneran ini calon suamihku *mudah mudahan baca ya*). Ihhhh bohong ah, tuh tiap wiken tempat tinggalnya di mall. Hahaha, karena dengan ke mall atau keluar jalan jalan aku gak kesepian, aku bisa ketemu temen temen, bisa ketemu kamu calon swimimi ku. Kan bisa ketemuan di apartemen aja...ihhh kata nenek berduaan aja itu berbahaya. Entahlah di gemerlapnya Jakarta ini aku emang ngerasa kesepian, so i need companion who makes my heart warm *lah kok mellow*. So hey my boy, when february comes...saksikanlah aku menjadi wanita rumahan yang kau idam idamkan...hihihi.

Di samping semua keluhan keluhan tadi, aku menyimpan secuil cinta untukmu wahai Jakarta. Gimana gak coba? ladang uangku ada di sini, Jakarta itu ibaratnya toserba lah...toko sagala aya, and my ultimate reason is ada kamu iya kamuuuuuu....


1 comment on "Enam Bulan di Jakarta"
  1. Wah true story banget nih mbak el... Ya at least pernah ngerasain lah jadi anak jakarta walaupun cuma 7 bulan :D

    ReplyDelete

Custom Post Signature

Custom Post  Signature